Survei terbaru terhadap lebih dari 70 lembaga keuangan di seluruh dunia menemukan bahwa 52% di antaranya mengidentifikasi kepatuhan terhadap peraturan sebagai tantangan utama dalam mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) serta risiko iklim.

Survei yang dilakukan oleh organisasi solusi fintech BCT Digital ini memperoleh wawasan dari 77 lembaga keuangan yang berlokasi di kawasan Asia-Pasifik, Amerika Utara, Eropa, Asia Barat, dan Afrika Utara, menurut CEO lembaga tersebut, Jaya Vaidyanathan.

Ditemukan bahwa lebih dari 72% perusahaan berencana mengeluarkan dana sebesar USD 500.000 atau lebih untuk teknologi ESG. Dalam upaya ini, lebih dari separuh lembaga merasa bahwa mengikuti perubahan peraturan merupakan tantangan terbesar terkait ESG.

Hampir 48% responden menyoroti tantangan dalam melakukan penilaian risiko dan pemetaan faktor-faktor ESG yang relevan, sementara persentase serupa mengidentifikasi pengintegrasian pertimbangan-pertimbangan ESG ke dalam alur kerja operasional dan keuangan sebagai hambatan yang signifikan.

Sehubungan dengan risiko iklim, tantangan utamanya adalah memenuhi ekspektasi stress test peraturan (67%), penghitungan gas rumah kaca yang akurat (56%), dan mengintegrasikan risiko iklim ke dalam lini produk secara operasional (50%).

Pada konferensi pers pada hari Kamis, Vaidyanathan mengatakan survei tersebut memvalidasi peralihan lembaga-lembaga dari sekadar menunjuk konsultan untuk mengidentifikasi risiko-risiko ESG dan iklim menjadi menerapkan langkah-langkah nyata untuk mengelola risiko.

Source link